21 9 / 2014

Ketika rindu sudah tumpah ruah dari wadah kesabaran, maka logika mesti turun tangan. Bekerja cepat tidak sama dengan terburu-buru, gadis. Mari persiapkan tumpukan kapuk, supaya tidak menjatuhkan diri di alas berbatu. Kamu, kan, bukan mau bunuh diri.

14 9 / 2014

Menyelinap jelang perform geng kuning belia PTI tour kemarin ;p with Santi and Clarissa – View on Path.

Menyelinap jelang perform geng kuning belia PTI tour kemarin ;p with Santi and Clarissa – View on Path.

09 9 / 2014

Suatu hari saya bakal ingin menikah. Bukan karena takut menua sendirian, bingung mau ngapain lagi, apalagi terdesak tuntutan sosial.
Tapi karena ketemu teman yang sangat seru buat diajak partneran lamaaaa sekali dan tiba2 saya nggak kebayang seandainya dia nggak ada di dunia ini.
Pasti, nanti akan saling bertemu :)

07 9 / 2014

Sepuluh tahun berlalu. Sekali teman tetap teman :) 
.
Photo courtesy of Prima

Sepuluh tahun berlalu. Sekali teman tetap teman :)
.
Photo courtesy of Prima

07 9 / 2014

A very yuppie malming ❤ Semoga akang akang tampan dan baik hati yg telah menghantar sampai depan gerbang rumah dapet jodoh mirip Laica ya Allah~ with Sadewo, Prima, Archie , Andhika, Kurniati, Rievki, and Rivi – View on Path.

A very yuppie malming ❤ Semoga akang akang tampan dan baik hati yg telah menghantar sampai depan gerbang rumah dapet jodoh mirip Laica ya Allah~ with Sadewo, Prima, Archie , Andhika, Kurniati, Rievki, and Rivi – View on Path.

22 8 / 2014

Suatu malam di kedai kopi yang suasananya menyenangkan, dua teman kuliah dan tiga cangkir kopi yang nyaman sekali di lidah. Bali Kobra, jenis bijinya, seperti ciuman di dahi rasanya. Saya cicipi aksen citrus di gulungan rasa pahit si kobra sambil berpikir, kenikmatan ini bisa saya rasakan karena: 1) saya punya cukup uang, 2) saya kenal orang yang memperkenalkan kedai ini. Alhamdulillah kedua hal ini saya dapat karena bekerja di kampeni sekarang.
Damn those books! Saya lega dan marah di waktu yang bersamaan ketika menyadari hal itu. Bulan-bulan belakangan ini hidup saya gelisah dan kurang bahagia. Serius. Soalnya saya selalu merasa ada yang kurang dan salah. “Mau jadi apa 10 tahun lagi?” “Gimana rencananya?” “Mestinya tuh kamu…” “Kamu kurang total bikin kerjaan masuk alam bawah sadar sehari-hari” “Sikap kamu mestinya…” begitu diulang-ulang kata senior dan buku-buku yang berjejer di meja kerja. Buku motivasi yang malah mengintimidasi. Hahahasu.
Menengok ke belakang. Itu yang saya sadari ternyata penting, ketika terlibat obrolan kopi tanpa ekspetasi dan pretensi dengan teman paling yahud sejagat raya: teman kuliah! (treasure them, my humble advice).  Dengan memikirkan apa yang sudah saya alami dan capai di belakang, saya merasa jauh jauh jauh lebih baik, lebih menghargai diri sendiri, dan lebih bersyukur: saya sudah punya sesuatu. Dan dengan sesuatu-sesuatu itu saya merasa lebih terang merencanakan masa depan yang ingin saya bangun. Terima kasih teman-teman, sudah memberi ruang berpikir tanpa penghakiman, sungguh suntikan rasa manusiawi yang sangat berarti. 
Ternyata memang lebih mudah menilai masalah ketika berdiri di luar lingkaran ya. Jadi bersikerasnya saya memisahkan lingkaran kehidupan pribadi dan lingkaran kehidupan kerja ada alasannya: untuk saling mendukung satu sama lain, yaitu dengan tidak saling mencampuradukkan keduanya. Kayaknya masih sampai lama saya bakal menganut ajaran turun temurun sejak zaman OSIS dulu, “Urusan organisasi ya urusan organisasi. Urusan pribadi ya urusan pribadi.”
Karena gaes, ada yang hidup untuk bekerja, ada yang hidup dan bekerja. Saya pilih yang terakhir, karena aku mah da atuh bukan pohon pisang yang punya jantung tapi nggak punya hati #eaaaak

Suatu malam di kedai kopi yang suasananya menyenangkan, dua teman kuliah dan tiga cangkir kopi yang nyaman sekali di lidah. Bali Kobra, jenis bijinya, seperti ciuman di dahi rasanya. Saya cicipi aksen citrus di gulungan rasa pahit si kobra sambil berpikir, kenikmatan ini bisa saya rasakan karena: 1) saya punya cukup uang, 2) saya kenal orang yang memperkenalkan kedai ini. Alhamdulillah kedua hal ini saya dapat karena bekerja di kampeni sekarang.

Damn those books! Saya lega dan marah di waktu yang bersamaan ketika menyadari hal itu. Bulan-bulan belakangan ini hidup saya gelisah dan kurang bahagia. Serius. Soalnya saya selalu merasa ada yang kurang dan salah. “Mau jadi apa 10 tahun lagi?” “Gimana rencananya?” “Mestinya tuh kamu…” “Kamu kurang total bikin kerjaan masuk alam bawah sadar sehari-hari” “Sikap kamu mestinya…” begitu diulang-ulang kata senior dan buku-buku yang berjejer di meja kerja. Buku motivasi yang malah mengintimidasi. Hahahasu.

Menengok ke belakang. Itu yang saya sadari ternyata penting, ketika terlibat obrolan kopi tanpa ekspetasi dan pretensi dengan teman paling yahud sejagat raya: teman kuliah! (treasure them, my humble advice).  Dengan memikirkan apa yang sudah saya alami dan capai di belakang, saya merasa jauh jauh jauh lebih baik, lebih menghargai diri sendiri, dan lebih bersyukur: saya sudah punya sesuatu. Dan dengan sesuatu-sesuatu itu saya merasa lebih terang merencanakan masa depan yang ingin saya bangun. Terima kasih teman-teman, sudah memberi ruang berpikir tanpa penghakiman, sungguh suntikan rasa manusiawi yang sangat berarti. 

Ternyata memang lebih mudah menilai masalah ketika berdiri di luar lingkaran ya. Jadi bersikerasnya saya memisahkan lingkaran kehidupan pribadi dan lingkaran kehidupan kerja ada alasannya: untuk saling mendukung satu sama lain, yaitu dengan tidak saling mencampuradukkan keduanya. Kayaknya masih sampai lama saya bakal menganut ajaran turun temurun sejak zaman OSIS dulu, “Urusan organisasi ya urusan organisasi. Urusan pribadi ya urusan pribadi.”

Karena gaes, ada yang hidup untuk bekerja, ada yang hidup dan bekerja. Saya pilih yang terakhir, karena aku mah da atuh bukan pohon pisang yang punya jantung tapi nggak punya hati #eaaaak

10 8 / 2014

Karena saya tidak selamanya muda.
Karena teman-teman saya tidak selamanya bakal mau berlagak muda.
Karena siapa tahu nanti saya kesulitan menyisihkan gaji untuk mengisi masa bebaskeun ini dengan kegilaan bodoh yang menyenangkan.
Karena jangan-jangan nanti Jakarta dan segala kemudahan tenggelam dalam euforia-euforianya ini tidak lagi saya tinggali setiap hari.
Karena bekerja itu untuk hidup, dan hidup itu bagi siapapun mestinya menyenangkan.
Karena siapa yang tahu bakal jadi apa seluruh semesta ini di hari, menit, dan detik setelah ini, jadi mari jangan diisi dengan penyesalan.

Karena saya tidak selamanya muda.
Karena teman-teman saya tidak selamanya bakal mau berlagak muda.
Karena siapa tahu nanti saya kesulitan menyisihkan gaji untuk mengisi masa bebaskeun ini dengan kegilaan bodoh yang menyenangkan.
Karena jangan-jangan nanti Jakarta dan segala kemudahan tenggelam dalam euforia-euforianya ini tidak lagi saya tinggali setiap hari.
Karena bekerja itu untuk hidup, dan hidup itu bagi siapapun mestinya menyenangkan.
Karena siapa yang tahu bakal jadi apa seluruh semesta ini di hari, menit, dan detik setelah ini, jadi mari jangan diisi dengan penyesalan.

21 7 / 2014

Taun ketiga! with Ricko, Utami, Hafid, Alwi, and Camelia – View on Path.

Taun ketiga! with Ricko, Utami, Hafid, Alwi, and Camelia – View on Path.

12 7 / 2014

Setelah 3 taun di Jakarta, akhirnya kesini juga :’) with @riajamin at Gramedia Matraman - Central Jakarta – View on Path.

Setelah 3 taun di Jakarta, akhirnya kesini juga :’) with @riajamin at Gramedia Matraman - Central Jakarta – View on Path.

12 7 / 2014

If there’s music in the night and it’s really really right, it’s the only thing I need.
It intoxicates your mind, all your teoubles left behind so come on and take my lead!
GBS!! #RJF2014 at Ramadhan Jazz Festival – View on Path.

If there’s music in the night and it’s really really right, it’s the only thing I need.
It intoxicates your mind, all your teoubles left behind so come on and take my lead!
GBS!! #RJF2014 at Ramadhan Jazz Festival – View on Path.