EUMOIROUS

happiness due to being honest and wholesome

Suatu malam di kedai kopi yang suasananya menyenangkan, dua teman kuliah dan tiga cangkir kopi yang nyaman sekali di lidah. Bali Kobra, jenis bijinya, seperti ciuman di dahi rasanya. Saya cicipi aksen citrus di gulungan rasa pahit si kobra sambil berpikir, kenikmatan ini bisa saya rasakan karena: 1) saya punya cukup uang, 2) saya kenal orang yang memperkenalkan kedai ini. Alhamdulillah kedua hal ini saya dapat karena bekerja di kampeni sekarang.

Damn those books! Saya lega dan marah di waktu yang bersamaan ketika menyadari hal itu. Bulan-bulan belakangan ini hidup saya gelisah dan kurang bahagia. Serius. Soalnya saya selalu merasa ada yang kurang dan salah. “Mau jadi apa 10 tahun lagi?” “Gimana rencananya?” “Mestinya tuh kamu…” “Kamu kurang total bikin kerjaan masuk alam bawah sadar sehari-hari” “Sikap kamu mestinya…” begitu diulang-ulang kata senior dan buku-buku yang berjejer di meja kerja. Buku motivasi yang malah mengintimidasi. Hahahasu.

Menengok ke belakang. Itu yang saya sadari ternyata penting, ketika terlibat obrolan kopi tanpa ekspetasi dan pretensi dengan teman paling yahud sejagat raya: teman kuliah! (treasure them, my humble advice).  Dengan memikirkan apa yang sudah saya alami dan capai di belakang, saya merasa jauh jauh jauh lebih baik, lebih menghargai diri sendiri, dan lebih bersyukur: saya sudah punya sesuatu. Dan dengan sesuatu-sesuatu itu saya merasa lebih terang merencanakan masa depan yang ingin saya bangun. Terima kasih teman-teman, sudah memberi ruang berpikir tanpa penghakiman, sungguh suntikan rasa manusiawi yang sangat berarti. 

Ternyata memang lebih mudah menilai masalah ketika berdiri di luar lingkaran ya. Jadi bersikerasnya saya memisahkan lingkaran kehidupan pribadi dan lingkaran kehidupan kerja ada alasannya: untuk saling mendukung satu sama lain, yaitu dengan tidak saling mencampuradukkan keduanya. Kayaknya masih sampai lama saya bakal menganut ajaran turun temurun sejak zaman OSIS dulu, “Urusan organisasi ya urusan organisasi. Urusan pribadi ya urusan pribadi.”

Karena gaes, ada yang hidup untuk bekerja, ada yang hidup dan bekerja. Saya pilih yang terakhir, karena aku mah da atuh bukan pohon pisang yang punya jantung tapi nggak punya hati #eaaaak

Karena saya tidak selamanya muda.
Karena teman-teman saya tidak selamanya bakal mau berlagak muda.
Karena siapa tahu nanti saya kesulitan menyisihkan gaji untuk mengisi masa bebaskeun ini dengan kegilaan bodoh yang menyenangkan.
Karena jangan-jangan nanti Jakarta dan segala kemudahan tenggelam dalam euforia-euforianya ini tidak lagi saya tinggali setiap hari.
Karena bekerja itu untuk hidup, dan hidup itu bagi siapapun mestinya menyenangkan.
Karena siapa yang tahu bakal jadi apa seluruh semesta ini di hari, menit, dan detik setelah ini, jadi mari jangan diisi dengan penyesalan.

Taun ketiga! with Ricko, Utami, Hafid, Alwi, and Camelia – View on Path.

Setelah 3 taun di Jakarta, akhirnya kesini juga :’) with @riajamin at Gramedia Matraman - Central Jakarta – View on Path.

If there’s music in the night and it’s really really right, it’s the only thing I need.
It intoxicates your mind, all your teoubles left behind so come on and take my lead!
GBS!! #RJF2014 at Ramadhan Jazz Festival – View on Path.

Setelah 9 Juli nanti, setelah reuni nasional ini selesai dihelat dan teman-teman melambai berpamitan, akan seperti apa wajah-wajah di linimasa media sosial saya? Akankah wajah-wajah yang telah berupaya amat keras mencari pengetahuan ini bertindak cerdas dan sportif  menerima kemenangan dan kekalahan kemudian membanjiri linimasa dengan senyum dukungan pada siapapun yang dipilih mayoritas Indonesia? Akankah tetap getol mengisi linimasa saya dengan saling sapa mengawal catatan-catatan kecil hasil debat sebelum 9 Juli? Akankah “keras kepala” memenuhi linimasa dengan foto-foto wajah-wajah yang tengah turut kontribusi dalam penyelesaian isu-isu lingkungan, pendidikan, agama, infrastruktur, dll? Ataukah setelah berpamitan, masing-masing kembali pulang dan tenggelam dalam lautan rutinitas tanpa ruang kontribusi untuk negara? Galau kembali seperti sedia kala?

tobaccoes:

Sometimes you stop talking to someone because you keep telling yourself that if they wanted to talk to you, they would.

(via metall-ingenieur)

Kesempatan menanggalkan aturan-aturan peran dengan tahu ada teman yang tetap di samping ketika batas koridor norak nasional terlampaui (haha). Itu kebahagiaan.
Tanpa mesti mereka-reka hal untuk disombongkan, karena kita bersenang-senang untuk menyenangkan diri sendiri, bukan menyenangkan siapa-siapa yang lain :)

Begitulah rasanya kalau desainer disuruh ngejiplak karya desainer lain. Plek ketiplek. Kayak makan daging temen sendiri; 1) rasanya ga enak, 2) ngilu, serasa menyakiti diri sendiri bro. Yaiyalah sini ngerti susahnya sana bikin desain. Jadi, siapapun, jangan coba-coba suruh desainer jiplak jiplak ya. Nanti saya keplak. Kalo mau jiplak jiplak ke tukang fotokopi ajah. Kiss.

Watch me forget about missing you #doodle #music #mindtrick