EUMOIROUS Jakarta
I don’t wanna waste a lifetime chasing pots of gold 
I don’t wanna miss the sunshine standing in the cold 
I don’t wanna be the one who’s left behind 
I wanna catch a glimpse of life 

I don’t wanna waste a lifetime chasing pots of gold 
I don’t wanna miss the sunshine standing in the cold 
I don’t wanna be the one who’s left behind 
I wanna catch a glimpse of life 

Life’ll only be crazy as it’s always been

Wake up early, stay up late, having debts

Things won’t be as easy as it often seems

Kita bicara empat mata waktu itu. Ada khawatir yang muncul karena besarnya rasa hormat dan kegundahanmu yang bisa kumengerti. Tapi sikapku akan hal yang satu ini amat jelas: aku tidak akan menundukkan prinsip pada tekanan sosial…. yang sayangnya berhasil membuatmu turut membebankannya padaku. 

To the future we surrender

Let’s just celebrate today, tomorrow’s too far away

// 24//

Tiba-tiba saya pengen menerbangkan diri: ke Italia makan gelato sambil ngegosipin Italiano yang konon rupawan tapi bawel, ke Jepun buat coffee talk & teach, ke Yurop ngobrolin aa bule nge-gym dan prospeknya dibikin boyband, ke Bandung minum coklat panas seduhan mama, ke Jakarta Selatan unyek-unyek ponakan, ke tempat-tempat orang-orang yang mengirimkan pesan ke telepon seluler saya hari ini berada.

Lebih dari kue, bunga, dan barang-barang mahal, ada yang nggak bisa dilihat maupun dibeli pake tabungan gaji bertahun-tahun: teman-teman yang kenal saya sampe ke tulang, yang sudah nemenin saya sebelum ada label dan embel-embel, yang di depan mereka nggak ada pura-pura. Yang cukup satu kalimat dari mereka bikin hati cenat-cenut. My precious friends, I want to give each of yous a warm hug!

Dan pada tiga manusia yang bisa dilihat dan disentuh di bawah ini, untung bisa dipeluk (kecuali Eja yah kan bukan muhrim #eaaa) aku cinta kalian semuahhh! smooch smooch smooch!

May your hands always be busy. May your feet always be swift. May you have a strong foundation when the winds of changes shift
May your heart always be joyful, and may your song always be sung.
May you stay forever young

Forever young, forever young

— Bob Dylan, Forever Young

Destinasi jalan-jalannya sih secara geografis, historis, dan -is -is lain, nggak istimewa-istimewa banget.
Yang istimewa: beberapa jam sebelum berangkat ada puncak badai yang baru saja berhasil dilewati setelah minggu-minggu ke belakang ketahanan hati dan profesionalisme diuji. Packing sambil setengah merem, itinerary cuma dibaca selewat, bahkan nggak tau ada apa di tempat tujuan. Tapi tak disangka tak dinyana ini perjalan paaaaaling lepas sepanjang riwayat jalan-jalan saya! woohoooo!
Yang bikin istimewa: tamasya di tempat tanpa kenalan bareng temen baik + total strangers yang kemudian jadi teman rusuh yang baik (muhaha), tanpa bisa akses kerjaan (ga ada sinyal, yes!), dan tanpa tahan diri sama sekali (berhubung hari sebelumnya udah super nahan diri tingkat kahyangan langit ketujuh), dan pula cuaca super cerah! Oh terima kasih, Tuhan.
Dua hari yang seperti pagi setelah malam panjang. Terima kasih, teman-teman :-*
It is in the darkest skies that stars are best seen —Richard Paul Evans

Destinasi jalan-jalannya sih secara geografis, historis, dan -is -is lain, nggak istimewa-istimewa banget.

Yang istimewa: beberapa jam sebelum berangkat ada puncak badai yang baru saja berhasil dilewati setelah minggu-minggu ke belakang ketahanan hati dan profesionalisme diuji. Packing sambil setengah merem, itinerary cuma dibaca selewat, bahkan nggak tau ada apa di tempat tujuan. Tapi tak disangka tak dinyana ini perjalan paaaaaling lepas sepanjang riwayat jalan-jalan saya! woohoooo!

Yang bikin istimewa: tamasya di tempat tanpa kenalan bareng temen baik + total strangers yang kemudian jadi teman rusuh yang baik (muhaha), tanpa bisa akses kerjaan (ga ada sinyal, yes!), dan tanpa tahan diri sama sekali (berhubung hari sebelumnya udah super nahan diri tingkat kahyangan langit ketujuh), dan pula cuaca super cerah! Oh terima kasih, Tuhan.

Dua hari yang seperti pagi setelah malam panjang. Terima kasih, teman-teman :-*

It is in the darkest skies that stars are best seen —Richard Paul Evans

// Balada kekasih//

Mereka kira aku membenci kamu. Entah kenapa. Mungkin karena terlalu sering aku membicarakan kamu. Padahal begitu tak terpisahkannya kita. Coba ingat-ingat, kapan terakhir kali kita kuat tidak saling menghubungi satu sama lain? Rasanya hampir setiap hari kita bertatap wajah, pun jika tak bersua kamu jarang berhasil kulepaskan dari ingatan. Kamu paham: paling tidak di pesan-pesan singkat dan surel selularku kamu selalu hadir.

Bagaimana bisa aku membenci kamu? Bangun pagi setelah mandi sampai wangi dan berdandan rapi jali kamu lah yang pertama bergegas aku temui. Selalu penuh kejutan dan tak pernah kehabisan topik bahasan, bagaimana coba aku bisa jauh-jauh darimu? Kalau tidak ingat bukan hanya matahari yang mesti tenggelam di peraduan tentu ingin kupecahkan teka-tekimu tanpa kenal waktu. Jikapun aku muak, kubawa pulang cerita kita untuk digelar di langit-langit kamar, tempat merenung paling nyaman untuk meluruskan akal sehat. Sebab jika aku bergelung di kasur dengan isi kepala tidak karuan kamu akan seenaknya menelusup hadir di lapis mimpiku. Sebal.

Siapa bilang aku membenci kamu? Kamu tidak membosankan, aku suka. Ah, tapi kamu memang suka menyebalkan sih. Kamu menjarah perhatianku seperti teka teki silang koran ibukota diam-diam mencuri waktu bermainku dari papa. Kamu seperti hantu. Dan aku si relawan dihantui. Kamu itu seperti….….. ah sebentar ada pesan masuk.

Rupanya dari kekasihku. Lagi-lagi penasaran apa aku sedang bersama kamu.

Sebentar lagi aku pulang, kujawab begitu.

Jangan kelewat mesra! Aku curiga kamu bakal menikahi pekerjaan kamu deh.

Kuketik lengkung senyum untuk kekasihku yang tengah cemburu itu, Kalau ingat kerjaanku aku jadi nggak ingin pulang. Kalau ingat kamu aku jadi ingin pulang.

Entah meradangnya kekasihku ini akan jadi reda atau tidak.

Jadi, haruskah aku katakan lagi kalau aku tidak membenci kamu, pekerjaanku? Mungkin saking besarnya cintaku ini sudah di batas saru dengan benci. Karenanya mereka kira begitu. Kalaupun ada yang membenci kamu, itu kekasihku. Kekasihku yang juga kucintai, sebesar manusia mencintai kata “rumah”.

Antara kamu dan kekasihku… Kita lihat nanti malam, siapa yang berhasil mengencaniku di alam mimpi.

Antara kita ada udara pengap dan uap teh hangat. Tawar. Seperti tawa kita tiap tuntas hajat muntah susunan abjad, hujat menghujat, hitam menghitamkan anjing, kucing, kambing, manusia taik, ah apa saja sah kita persalahkan, toh kita sama-sama paham ini hanya permainan.

Aku dan kamu, suara kita berlomba dengan musik yang acak tempo, tak jelas dinamika, tanpa pola, paling populer di ibukota. Komposisi ritme dehem mesin pemalu sampai batuk bajaj tua dengan melodi klakson beda ketukan. Kita sibuk menjadi penyanyi latar, berdua, berlima dengan tiga pria berdasi longgar di meja nomor tiga belas, bertujuh dengan dua wanita bergincu luntur di meja pojok sana. Kita merasa merdu, meski tahu bukan ke arah kita lampu panggung tertuju.

"Lain kali ke Senopati aja, yuk.", sahutku sambil nyengir. Sengaja sampai mata agak menyipit. Pulang nanti harus kutegur siapa saja yang menghidangkan teh kurang kental ini. Belum satu jam uap-nya sudah memudar, jeda antara kita jadi terlalu cepat menipis. Semoga kamu tidak menangkap kebingungan di mataku.

"Sekarang aja", tiba-tiba kamu sudah berdiri, "Yuk!". Setengah menyeret kaki aku mengikuti langkah selebar jarum pendek di angka sepuluh dan jarum panjang di angka dua pada arlojimu.

"Hei, ini jam standar pria-pria yang kukencani mulai cemas ingin mengamankan aku pulang ke rumah!"

"Kamu mesti lebih sering bersamaku kalau begitu." Ujarmu sambil melepas tawa. "Kamu kelewat hobi membikin detail hidupmu punya standar aturan. Apa sih asiknya hidup standar?"

"Wow, setidaknya itu usaha terbaik untuk tidak melukai siapa-siapa."

"Kecuali aku?", wajahmu masih bersisa tawa.

Kutaruh hening sambil menghujat dalam hati: Sial, betul juga.

Jika ada pengecualian dalam standar pemilihan lingkaran terdekatku, itu kamu. Lingkaranku hitam putih, kamu magenta, yang setelah aku lihat-lihat bagus juga ada di sana. Entah bagaimana komposisi ini bisa berlangsung kelewat lama. Mungkin karena ketika bersama kita sepakat untuk tidak mengotak-kotakan hal. Termasuk hubungan kita. Kita saling membutuhkan sebesar kita tidak saling membutuhkan. Kita saling menyanjung sebanyak kita saling mengutuk. Kita teman, kita kekasih, kita rekan kerja, kita musuh, kita lebih dari label dan embel-embel.

Punggung berpeluhmu disinari lampu jalan yang temaram. Aransemen musik jalanan ibukota masih lekat di kuping ketika kulihat kamu menoleh ke arahku dengan bingung. Kupercepat langkah agar kita berjalan sejajar, supaya bisa kita teruskan melempar sumpah serapah bersama lengkingan klakson dan gerung knalpot modifikasi. Sesekali kita disergap hening. Sesekali rasa bingung menggelitik. Kita sadar diam-diam itu menjebak kita tetap rekat. Kita manusia tanpa label dan embel-embel, kita penyanyi latar yang kelewat senang, kita dua manusia yang tidak puas main tebak-tebakan, karenanya kita bertahan dalam lingkaran permainan. Kita sama-sama paham ini hanya permainan.

image

Kamu tahu kan, suatu hari orang akan mengeluhkan kamu yang terlalu banyak mengeluh.

Take it, or leave it, dear. Pada akhirnya mereka akan berkata. 

Kamu tahu kan, semua buku dengan diksi rumit dan nasihat bijaksana tentang bagaimana kamu seharusnya menjadi bagian kecil yang berguna di alam semesta ini, sudah susah payah kamu racunkan berbelas-belas tahun ke dalam pikiran. Untuk jadi makhluk yang memenuhi fungsinya memberi manfaat bagi orang lain, lurus tanpa prasangka. Kamu bangun dinding untuk menjaga bagian paling sederhana dalam dirimu tetap seperti itu. Karena diam-diam, mimpimu sederhana.

Tapi kamu tahu, di dunia yang begitu rumit, jadi sederhana itu egois. Karenanya kamu tanam pekarang bentengmu dengan ketidaksederhanaan, etika multistandar, bahkan kepura-puraan. Kamu tanam bunga yang cantik, yang semoga wanginya menyenangkan semesta di sekitarmu. Meskipun kamu, lebih suka udara segar. Kamu tanam pula buah-buahan, supaya orang yang sedih karena kehausan dapat memetik kesenangan darimu. Kamu biarkan dindingmu dijalari sulur yang kelaparan. Meskipun kamu, tahu itu merapuhkan benteng kesederhanaanmu.

Kamu sadar ini terlalu lucu, kenapa harus bersulit-sulit sekedar untuk jadi sederhana?

Karena sederhana itu egois.

There’s a rhythm in rush these days
Where the lights don’t move and the colors don’t fade
Leaves you empty with nothing but dreams
In a world gone shallow 
In a world gone lean

// Cherish 2013//

Satu tahun lagi ditutup sudah. I know it’s a bit late, tapi sebelum merentang tangan menyambut tahun 2014 saya pengen mengingat segala kebaikan dan pelajaran di 2013 and kiss them goodbye :-*

Memasuki semester tiga dan empat 8 to 5 di Jakarta; kubikel, deadline, arsip, dan jalanan ibukota, tidak lagi sanggup memuaskan kehausan saya akan ke’ajaib’an-ke’ajaib’an yang memacu adrenalin, meruakkan serotonin. Hal-hal menjadi nyaman. And as things has begun to fall into places, saya punya cukup spasi dan keberanian untuk menyesatkan diri saya dalam pencarian akan ketidaknyamanan.

Therefore in 2013, I travel a lot.

I went to soooooo many recitals, gigs, and concerts. In different places, of different genres, and with different people. Dari musik klasik seharga enam digit yang penontonnya rapi jali dan sopan-sopan, festival jazz yang hilir mudik manusia-manusia hipster dan musisi berjari keriting, privat show band yang jarang banget kebagian tiket, sampai konser metal dan reggae yang serba item serba rusuh dan penuh ‘asep’.

Menyesatkan diri di musik-musik yang nggak saya pahami, performers dan alat musik yang belum pernah saya denger namanya, venue-venue yang entah di belahan mananya Jakarta, temen nonton yang sebetulnya klien baru kenal seminggu, haha, dan meski nggak semuanya bisa saya pahami dan nikmati, semuanya menakjubkan! 

Move on dari hilir mudik dalam kota, Sawarna, Pulau Sebuku, Pulau Umang-umang, Legon Cabe, Anak Krakatau pun akhirnya diketuk-ketuk. Wah, entah deh surga akhirat bakal seindah apa kalau tempat-tempat ini saja sudah sulit dilukiskan dengan kata-kata. Perjalanan yang satu direncanakan matang dengan teman-teman dekat, yang lain nekat didatangi dengan total strangers. Perjalanan yang satu menenangkan, perjalanan yang lain menyenangkan. Ada juga yang menantang, sepuluh hari di negara separuh Asia separuh Eropa: 4 hari rombongan, 2 hari berdua, 4 hari sendirian. 11 jam perjalanan menuju tempat dimana selama 10 hari saya akan menjadi minoritas. Woohoo! Bersama rombongan terasa senang, berdua kuli tinta senior terasa aman, sendirian terasa nyaman, dan begitu pulang.. banyak kejutan! Next time saya pergi ke luar negeri lagi, I’ll remember this: orang Indonesia yang ditemui di negeri jauh pasti bukan orang biasa-biasa saja. Thus, behave. Sekian. Hahaha.

Tapi perjalanan yang paling berani, paling berpengaruh di tahun 2013 adalah: menyesatkan diri ke perusahaan lain. Pindah dari perusahaan yang penghuninya udah dianggap keluarga dan jenis pekerjaannya hafal di luar kepala ke partner-partner baru dengan tanggung jawab baru. Terkejut bahwa ternyata nggak lebih mudah move on dari mahasiswa ke entry level daripada dari entry level ke experienced. Ekspektasi, tanggung jawab, antusiasme, it’s a whole new level. Saya betul-betul tenggelam dalam perjalanan menaklukkan level baru ini. Keputusan terbesar di tahun ini, tantangan terbesar di tahun ini. Kenyamanan dari ketidaknyamanan di tahun ini.

2013 penuh jalan-jalan ke luar. 
2014 saya akan lebih banyak jalan-jalan ke dalam.

Sebab suatu sore di akhir tahun 2013 seorang teman bertanya, “Sekarang cita-cita kamu apa, Lin?

Saya tidak bisa menjawab.

Saya terkejut betapa sudah kelewat nyaman saya ini dengan diri saya, betapa minimnya saya menjelajah ke dalam diri saya sendiri, tidak lagi mencari-cari. Oleh karena itu tahun ini waktunya mentidak-nyamankan diri.

Mengaduk-aduk jalan-jalan di dalam supaya bisa move on jadi manusia yang lebih baik lagi. Supaya siap ketika ada tantangan lebih besar yang bisa datang kapan saja. Supaya bisa membuat orang lain nyaman berinteraksi dan berelasi dengan saya.  

Dan supaya saya bisa dengan tulus mencintai dan mengapresiasi rasa dan karya orang lain : )

Halo, 2014. 

Gosong tapi bahagia 🏊🏊🏊 – View on Path.

Gosong tapi bahagia 🏊🏊🏊 – View on Path.

happiness due to being honest and wholesome